Halo Sobat! | Members area : Register | Sign in
Pasang Iklan | Kontak | Profile | Link | Donasi | Sitemap
Artikel Terbaru :

Metode Belajar ala Imam Syafi'i

Ditulis Oleh Ikhwanul Kiram on 05 Oktober 2011 | 10/05/2011 05.39.00 PM

Majalah Asik.com - Kali ini kami akan bercerita tentang tata cara belajarnya Imam besar, yaitu Imam Syafi’i. Tapi sebelum kita langsung ke tata cara beliau belajar, alangkah baiknya kita simak sedikit tentang biografi dari Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i dilahirkan di Gaza, Palestina, pada tahun 150 H. la diberi nama Muhammad bin Idris bin 'Abbas bin 'Utsman bin Syafi'i Al-Quraisy bin Abdul Muthalib bin Abdul Manaf. Sejak ia masih di dalam kandungan, ayahnya yang bernama Idris telah meninggal dunia. sehingga beliau hanya dipelihara oleh ibunya yang berasal dari Qabilah Azad dari Yaman. Diwaktu kecil Imam Syafii hidup dalam kemiskinan dan penderitaan sebagai anak yatim dalam “dekapan” ibundanya .

Oleh karena itu ibunya berpendapat agar sebaiknya beliau (yang ketika itu masih kecil) dipindahkan saja ke Makkah (untuk hidup bersama keluarga beliau disana). Maka ketika berusia 2 tahun beliau dibawa ibundanya pindah ke Makkah. Imam Syafi’I, dilahirkan bertepatan dengan meninggalnya Imam Abu Hanifah oleh karena itu orang-orang berkata : “telah meninggal Imam dan lahirlah Imam”.

Pada usia 7 tahun beliau telah menghafal Al Qur’an. Dan suatu sifat dari Imam Safi’i adalah, jika beliau melihat temannya diberi pelajaran oleh gurunya, maka pelajaran yang dipelajari oleh temannya itu dapat beliau pahami. Demikian pula jika ada orang yang membacakan buku dihadapan Imam Syafi’i, lalu beliau mendengarkannya, secara spontan beliau dapat menghafalnya. Sehingga gurunya pernah berkata kepadanya : “Engkau tak perlu belajar lagi di sini (lantaran kecerdasan dan kemampuan beliau untuk menyerap dan menghafal ilmu dengan hanya mendengarkan saja)”.
Subhanallah ya asik lovers..
Nah, berikut kita akan langsung ke tata cara beliau belajar.
Imam Syafi'i berkisah, "Setelah aku hafal Al-Qur'an, aku masuk ke Masjidil Haram untuk berguru kepada para ulama. Dari merekalah aku menimba ilmu, menghafal hadis, dan berbagai masalah ilmiah lainnya. Rumahku berada di lereng bukit Khaif. Aku sering melihat potongan tulang yang putih berkilauan, kemudian tulang itu kupungut dan kujadikan sarana menulis hadis atau masalah ilmiah lainnya. Dahulu kami memiliki sebuah guci tua untuk menyimpan potongan-potongan tulang itu. Tiap kali tulang yang kubawa telah penuh berisi tulisan, aku menyimpannya dalam guci itu."

Untuk mempelajari bahasa Arab dan seluk-beluknya, ia mengembara di pedusunan Arab Badui selama dua puluh tahun. la ikut kabilah Hudzail karena bahasa mereka paling fasih. Dirinya sering ikut ke mana pun mereka pergi karena saat itu masih banyak kabilah-kabilah Arab yang hidup nomaden (berpindah-pindah).

Di antara nasihat-nasihat Imam Syafi'i adalah sebagai berikut.
Dari Rabi' meriwayatkan bahwa Imam Syafi'i berkata, "Menuntut ilmu itu lebih afdhal daripada shalat nafilah (sunnah)." (Shifatus Shafwah, 11 234)>Dari Ahmad bin Abdurrahman bin Wahab mengatakan bahwa ia mendengar Asy-Syafi'i berkata, "Seorang penuntut ilmu membutuhkan tiga hal: pertama, bekal (uang) yang cukup; kedua, usia yang panjang; ketiga, sedikit kecerdasan." (Shifatus Shafwah, 1/234)"Hai Rabi', keridaan manusia ialah tujuan yang tak akan tercapai maka perhatikan saja apa yang baik untukmu dan tekunilah itu karena kau tak akan mendapat jalan untuk meraih keridaan semua orang. Ketahuilah, barangsiapa belajar Al-Qur'an, akan mulia di mata orang. Barangsiapa belajar hadis, akan kuat hujjah-nya. Barangsiapa belajar nahwu (tata bahasa), akan disegani. Barangsiapa belajar bahasa Arab, akan lembut perangainya. Barangsiapa belajar berhitung, akan baik pendapatnya. Barangsiapa belajar fiqih, akan mulia kedudukannya. Barangsiapa tidak menjaga diri, tidak akan bermanfaat ilmunya, dan kunci dari semua itu adalah takwa." (Shifatus Shafwah, 1/235)>

.:Artikel Terkait:.

lintasberita